Site Overlay

Cerita Nyonyorino Dari Awal Sampai Berada Pada Wadah Keilmuan Tentang Jelajah Diri (Bagian 1)

GetarAtas.com | Semua berawal dari saat usia saya sembilan tahun, saya mengagumi seorang ustadz kondang almarhum KH. Zainudin MZ. Saat itu saya sering memberanikan diri untuk tampil di depan umum berceramah sebagai ustadz cilik, saya sering mencontohkan gaya beliau cara beliau.

Pertama kali saya tampil, saya malu. Dilain waktu saat saya tampil dan ternyata banyak orang yang tidak ada memperhatikan saya, saya nangis. Lalu ibu saya selalu memberikan dukungan dengan menasehati agar saya bisa mengontrol diri dan mengendalikan emosi.

Ayah saya selalu mendukung, dengan memberikan banyak bahan materi yang akan saya sampaikan. Dari kedua orang tua lah saya belajar banyak, bagaimana saya mengenal diri, memahami potensi saya hingga ketakutan grogi dan galau bisa saya taklukan.

Sampai saya selesai lulus SD, keinginan terbesar saya saat itu meminta ibu saya untuk masukkan saya ke pesantren. Namun saat itu ibu saya kaget dan keberatan, karena beliau tidak mau jauh dari anak bontotnya.

Saya bersikeras untuk masuk pesantren, akhirnya ibu luluh dan kami survey pesantren mana yang akan dipilih. Berangkatlah mulai dari Gontor, lalu Tebu Ireng dan beberapa pesantren di luar Jakarta kami kunjungi.

Karena ibu saya tidak mau jauh, akhirnya ibu saya memilih pesantren Darunnajah di Cipining Lewiliang. Selama 3 tahun saya menimba ilmu di pesantren Darunnajah, hanya sampai tingkat tsanawiyah (setingkat SMP) saja.

Selama di pesantren saya banyak mempelajari karakter manusia, memahami banyak teman-teman saya yang berasal dari berbagai daerah, termasuk banyak belajar sifat karakter orang dari berbagai macam daerah.

Disanalah saya menjelajahi diri saya dengan lebih serius. Saya yang berawal dari seorang anak bontot yang manja, dimana semua selalu difasilitasi sehingga banyak yang mengatakan saya itu lemah, cengeng dan tidak akan pernah bisa jauh dari orang tua.

Sampai saya belajar di pesantren yang mengharuskan saya mandiri dan jauh dari orang tua, yang berarti saya harus menghadapi semua masalah sendirian disana. Menghadapi perundungan, konflik dengan sesama anak pesantren. Ditempat ini juga saya banyak menemui berbagai macam sifat, ada yang nakal, ada yang baik dan ada juga yang terlalu baik, sampai kebaikannya itu aneh.

Disana saya harus mencuci baju sendiri, menjadi manusia yang harus berani, nggak boleh cengeng. Mulailah saya menjelajahi diri saya untuk belajar lebih faham konsep mengenali diri.

Lulus Tsanawiyah saya masuk sekolah SMA Islam PB Sudirman, dan saya sering diminta oleh guru agama untuk tampil ceramah dan memberi motivasi anak-anak yang sering tawuran. Bahkan saya pernah dikirim ke sekolah musuh sekolah saya, setiap ada tawuran untuk berdiplomasi dan berdiskusi dengan mereka.

Awalnya saya deg degan. Karena saya harus masuk dan menasehati pelajar yang sekolahnya menjadi musuh bebuyutan sekolah saya. Tetapi akhirnya, alhamdulillah semua dalam suasana yang kondusif.

Namun saya banyak belajar, kenapa mereka tawuran. Ternyata mereka belum mengetahui siapa dirinya mereka dalam proses pencarian jati dirinya, sehingga menganggap unjuk keberanian dalam tawuran menjadi cara yang tepat untuk menemukan jati diri.

Di SMA itu, dalam OSIS saya diamanahkan untuk menjadi ketua ROHIS yang membina bidang ketakwaan kepada Tuhan yang maha esa. Singkat cerita, SMA adalah tempat saya belajar banyak memahami dan mengenal diri saya lebih dekat dan memahami serta mengenal orang lain yang lebih heterogen diusia remaja.

Lulus SMA saya masuk kuliah di Trisakti dan taat atas kemauan orang tua untuk memilih jurusan Akuntansi. Terjadilah tragedi kerusuhan mei 1998, dan secara keorganisasian saya ikut terlibat di dalamnya. Karena saya masuk dalam organisasi Himpunan Akuntansi Fakultas Ekonomi.

Terlihat suasana manusia pada saat itu mulai dari tingkat penguasa, dalam hal ini pemerintah yang sedang di gulingkan. Kemudian tingkat intelektual, dalam hal ini mahasiswa dan para akademisi lainnya. Hingga tingkat masyarakat, mulai dari menengah bawah hingga menengah atas.

Semuanya satu sama lain saling mengedepan emosi, yang mengakibatkan ketidak kenalan terhadap dirinya masing-masing dan akhirnya terjadi kerusuhan dimana-mana. Hampir semua orang saat itu keluar dari fitrahnya manusia, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

Tragedi dan suasana saat itu menjadi pelajaran besar lagi buat saya, untuk melihat manusia dari sisi yang berbeda. Di dalam diri ini ada keterlibatan spiritualitas diri dari Tuhannya.

Sungguh besarnya Tuhan yang bisa membolak balikkan hati didalam diri manusia.

Saat semester akhir saya bekerja disalah satu kantor akuntan publik yang mendukung skripsi saya dalam akuntansi. Saat itu saya bekerja sebagai junior auditor, dan kantor itu sedang ada proyek untuk mengaudit sebuah LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat).

Ada bantuan dana dari Bank Dunia yang disalurkan ke pengusaha-pengusaha kecil di perkotaan, khususnya di DKI Jakarta. Sebagai junior auditor selama hampir satu tahun saya terjun ke masyarakat dan pengusaha kecil, mulai dari pengusaha kripik, pengusaha jengkol sampai pengusaha gado-gado.

Disanalah saya mempelajari kembali karakter manusia dan kondisi lingkungan sangat mempengaruhi karakter dasar mereka yang terkesan berubah dan bahkan mereka bisa menjadi bukan dirinya. Tantangan saat itu adalah pengusaha-pengusaha kecil tidak memahami pencatatan dan saya harus terlibat untuk membantu mereka menyusun laporan keuangan.

Lulus kuliah saya pindah kerja di perusahaan anak garuda yang mengurus karyawan-karyawan out sourching yang dipekerjakan di Garuda hingga Gapura Bandara Soekarno Hatta.

Kembali lagi saya belajar memahami diri manusia yang perannya sebagai karyawan dengan sedikit kemungkinan mereka bisa menjadi karyawan tetap dan lebih berpotensi untuk selalu menjadi karyawan kontrak.

Usai 5 tahun saya keluar dari kantor dan pindah ke perusahaan Jepang yang berdomisili di kawasan EJIP Cikarang. Disanalah saya belajar sebuah proses bekerja dengan suasana asing khususnya budaya kerja orang-orang Jepang.

Adaptasi dengan budaya yang berbeda, dibanding dengan perusahaan sebelumnya membuat saya cukup banyak mempelajari karakter orang yang berbeda lagi. Budaya peraturan dan kedisiplinan yang tinggi dan berbeda dari sebelumnya, juga membuat saya bisa keluar masuk rumah sakit.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *